M
MANTRA
AI Governance MANTRA-LAW-001 Human Authority

AI Governance: Kenapa AI Tidak Boleh Membuat Keputusan

ARSAKA Team ·

AI Sebagai Asisten, Bukan Pengambil Keputusan

Di era AI yang semakin canggih, mudah tergoda untuk membiarkan AI membuat keputusan arsitektur secara otonom. Claude bisa menganalisis codebase, memahami pattern, dan menyarankan arsitektur. Kenapa tidak biarkan saja AI yang memutuskan?

Karena keputusan arsitektur bukan masalah teknis semata. Keputusan arsitektur melibatkan trade-off bisnis, constraint organisasi, preferensi tim, dan konteks yang tidak sepenuhnya bisa ditangkap oleh AI.

MANTRA-LAW-001 §6

Prinsip ini explicit di MANTRA:

AI memiliki ZERO approval authority. AI boleh membantu draft, retrieve, dan review. Tapi keputusan akhir selalu ada di tangan manusia.

Ini bukan limitation karena AI tidak cukup pintar. Ini desain yang disengaja untuk alasan fundamental.

3 Alasan Fundamental

1. Accountability

Siapa yang bertanggung jawab jika keputusan arsitektur menyebabkan data breach? Jika AI yang membuat keputusan, tidak ada manusia yang bisa dimintai pertanggungjawaban.

Dalam MANTRA, setiap keputusan memiliki created_by — manusia yang namanya tercantum bertanggung jawab atas keputusan tersebut. Ini bukan formalitas, tapi mekanisme accountability yang nyata.

2. Context Gap

AI assistant bekerja dalam window context yang terbatas. Mereka tidak tahu:

  • Politik organisasi — “Tim backend dan frontend punya konflik tentang API format”
  • Constraint budget — “Kita tidak punya budget untuk managed Kafka, harus self-host”
  • Sejarah tim — “Terakhir kali kita coba microservices, deployment jadi nightmare”
  • Rencana bisnis — “Bulan depan kita akuisisi perusahaan yang sudah pakai MongoDB”

Keputusan arsitektur yang baik mempertimbangkan semua konteks ini. AI hanya melihat sebagian.

3. Cascading Impact

Keputusan arsitektur memiliki blast radius yang besar dan jangka panjang:

  • Memilih database technology → affects semua service selama bertahun-tahun
  • Memilih authentication pattern → affects security posture seluruh sistem
  • Memilih deployment strategy → affects operational cost dan complexity

Keputusan dengan impact sebesar ini tidak boleh dibuat tanpa deliberate human judgment.

Apa yang AI Boleh Lakukan

MANTRA sangat memanfaatkan AI — di area yang tepat:

Draft Assistance

AI membantu menyusun draft keputusan berdasarkan diskusi dan konteks:

  • Menyarankan domain dan aspect yang tepat
  • Menghasilkan constraints dan invariants dari diskusi
  • Melengkapi field-field standar

Quality Validation (Gate 2)

AI melakukan quality check pada draft keputusan:

  • Apakah statement cukup jelas dan actionable?
  • Apakah ada konflik dengan keputusan existing?
  • Apakah ada duplikasi?

Smart Retrieval

AI menyajikan keputusan yang relevan saat developer coding:

  • Context-aware search berdasarkan file yang sedang diedit
  • Trigger-based suggestions saat pattern terdeteksi
  • Decision bundles untuk area tertentu

Enforcement Checking

AI memeriksa apakah kode comply dengan keputusan:

  • Regex constraint checking
  • Import rule validation
  • Code annotation scanning

3-Gate Pipeline: Human as Final Gate

Design MANTRA menempatkan manusia sebagai gate terakhir yang tidak bisa di-bypass:

  1. Gate 1 (Deterministic): Schema & format validation → otomatis
  2. Gate 2 (AI Heuristic): Quality & conflict check → otomatis, soft warning
  3. Gate 3 (Human Approval): Final review & approval → manual, hard block

Bahkan jika Gate 1 dan 2 pass sempurna, keputusan tetap tidak tersimpan sampai manusia approve di Gate 3.

Pelajaran dari Industri Lain

Pendekatan ini bukan baru:

  • Aviation: Autopilot menerbangkan pesawat, tapi pilot yang memutuskan take-off dan landing
  • Medicine: AI membantu diagnosis, tapi dokter yang memutuskan treatment
  • Law: AI membantu legal research, tapi lawyer yang memutuskan strategi

Di semua industri ini, AI sebagai asisten + manusia sebagai decision maker adalah pattern yang terbukti.

Kesimpulan

MANTRA-LAW-001 §6 bukan batasan — ini safeguard. AI yang semakin canggih membuat bantuan semakin berguna, tapi justru membuat governance semakin penting.

Biarkan AI membantu Anda membuat keputusan yang lebih baik. Tapi pastikan keputusan akhir selalu di tangan manusia yang bertanggung jawab.

“AI membantu, manusia memutuskan.”